Turun ke jalan bukanlah sebuah pilihan. Tapi karena himpitan ekonomi dan rasa tanggung jawab terhadap adik-adik mereka yang masih kecil. Mereka bersyukur sekali jika ada yang memberi 1000 atau 500 rupiah, tapi kebanyakan hanya memberi 100 perak ^_^. Turun ke jalan seperti terjun ke hutan rimba. Bagi anak jalanan perempuan, pelecehan seksual adalah hal yang paling ditakuti. Sehari dua hari mereka masih selamat dari pelecehan seksual, selanjutnya??
Ketika ada sebuah yayasan yang menaungi dan membimbing mereka, ada sebuah harapan muncul di wajah mereka. Harapan untuk tidak lagi turun ke jalan, melepaskan gelar sebagai anak jalanan, mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak, dihargai oleh semua orang, tidak ingin terpinggirkan dan selalu dituduh biang ketidaknyamanan para pengguna jalan, dll. Ungkapan-ungkapan tersebut memberi sebuah rasa optimis bagi pihak yayasan untuk mewujudkan jalan raya bebas anak jalanan.
Tapi, di sisi lain muncul rasa pesimis di pihak yayasan. Karena setelah mengikuti pembinaan selama kurang dari enam bulan mereka bertanya-tanya, “kami harus ke mana dan menjadi apa? Haruskah kami kembali lagi ke jalan? Jika nanti kami kembali lagi ke jalan, untuk apa kami cape-cape mengikuti program ini?”. Ada lagi kasus yang ingin mendapat ijazah secara instan, dengan mengikuti pembinaan dengan terpaksa selama kurang lebih 6 bulan target mereka hanya untuk mendapatkan ijazah setara SMP atau SMA, alasan klasiknya untuk melamar pekerjaan. Kasus lain lagi mengenai ketrampilan yang diberikan, seperti pada awal perekrutan yayasan berjanji untuk memberikan ketrampilan otomatif seperti yang mereka minati, tapi eh pada saat pembinaan mereka kecewa sekali karena ketrampilan yang diberikan menjahit dan potong rambut yang tidak sesuai dengan minat mereka.
Ditengah perasaan optimis dan pesimis tadi, ada sebuah kampanye:
Stop Beri Uang, Beri Kami Kesempatan”
Dengan kita berhenti memberikan “uang gampang” berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan2 yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.
Bagaimana menurut anda? Stop beri uang langsung pada mereka atau tetap memberi uang dengan keyakinan rejeki mereka datang melalui jalanan seperti harapan sebagian anak jalanan di paragraf pertama?
referensi:
http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Renungan&table=isi&id=891&next=0
http://anakteladan.org/
http://www.pikiran-rakyat.com/
http://www.ictwatch.com/saj/eng.htm
http://www.stopberiuang.or.id
http://www.google.co.id/ –> kehilangan jejak nii ![]()
1 Comment
this is the only website I visit regularly, because most of my friends hang out here and have a lot of fun
Write a Comment