Sang Anak
Kahlil Gibran
Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, namun bukan hakmu
Berikan mereka kasih sayangmu,
tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat jauh, serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
Puisi ini dikutip dari buku Rumah Iklan, Bondan Winarno, 2008. Ceritanya puisi ini pernah jadi iklan layanan masyarakat di tahun 1978, tapinya iklan ini bikin marah pemerintah. Nah kalo munculnya sekarang, mungkin sudah banyak orang tua yang punya pemikiran yang sama atau tidak kolot. Namun ini munculnya di era orde baru, jadinya ada kemungkinan pemerintahnya tersinggung karena dianggap bertentangan dengan pewarisan nilai-nilai Angkatan 45.
Aku terkesima ketika membaca bait pertama, bahwa anak memang bukan buatan orang tua lalu seenaknya membentuk ini itu. Tapi bait kedua, “tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu”.
Apa yg dimaksud bung Kahlil Gibran ini dengan bentuk pikiranmu? Apakah tidak boleh menghasud pikiran anak sama sekali? Bukannya justru orang tualah yang jadi guru pertama di awal-awal kehidupannya, entah disengaja ato tidak, karena pola hidup sehari-hari, pemilihan media, lingkungan, dan pendidikan untuk anak pastinya memberi kontribusi yang berarti pada pola pikiran anak. Bukan begitu?
Write a Comment