Sebelumnya kami sering membuat clay dari tepung, caranya:
1. Campur tepung terigu bekas dengan lem putih/lem kayu merk Fox (bisa dibeli di toko bangunan).
2. Uleni sampai kalis dan tidak lengket di tangan, pufhhh ini kerjaan yang butuh kesabaran dan ketabahan, hiks bukan aku banget. Jika terlalu lembek tambah tepungnya, jika terlalu kaku tambah lemnya atau beri baby oil/hand body lotion.
3. Pisahkan beberapa bagian, masing-masing beri warna menggunakan pewarna makanan/cat air, uleni lagi masing-masing sampai warnanya tercampur rata.
Adonan ini bisa disimpan di lemari es, saat mau menggunakan kembali tetesi adonan dengan baby oil/hand body lotion lalu uleni sebentar. Cara ini aku dapatkan dari buku dan berbagai blog penggemar craft clay. Oh ya aku beli beberapa cetakan kue sebagai pendukung dan botol bekas YouCseribu untuk meratakan clay. Dan botol ini aku jadikan analogi cara kerja buldozer yang kerja di perumahan untuk meratakan tanah.

Enaknya clay seperti ini bahannya murah meriah dan hasilnya bisa dikumpulkan atau dipajang. Gak enaknya, saat Kiyu kepengen banget buat clay, dia harus sabar nunggu aku yang nguleni tepung. Seiring berjalannya waktu, Kiyu yang mulai bisa nentuin sendiri kegiatannya seperti sedang ingin membuat clay ini, kadang di saat-saat yang tidak tepat bagi aku. Nah, akhirnya aku belikan saja malam (playdough murah meriah, bukan malam lawannya siang lo yaaa :p ). Inilah clay pertama yang original karya Kiyu:

Clay pertamanya Kiyu
Kiyu mempresentasikan karyanya, “Ini matanya, ini mulutnya, ini ekorlnya!”. “Hebat kamu nak!”.

Seiring berjalannya waktu lagi, ternyata pake malam ada gak enaknya, dalam 3 kali pemakaian warnanya udah kecampur-campur, trus hilang deh. Haruskah beli malam terus-menerus, atau aku duduk saja sampai siang mengganti malam?? :D .