Kalo Enggak Gimana

Kiyu beberapa minggu ini sering bertanya, “Kalo enggak ada hujan gimana jadinya”, “Kalo pos satpamnya gak dirobohin gimana jadinya?”, dst. Pokoknya setiap kalimatku negasinya selalu ditanyakan. Bahkan ketika aku menjelaskan hadiah yang aku beli dibungkus pakai kertas kado supaya terlihat menarik dan membuat senang si penerima, Kiyu tetap tanya, “Kalo gak dibungkus kado gimana jadinya?”. Akhirnya aku balik tanya, “Jadinya gimana hayo?!”.

Seingatku duluuu aku pernah berkata, “Ini dibuat begini supaya begitu kalo tidak begini jadinya bla bla bla”. Memang anak-anak itu peniru yang baik, bahkan kalimatku yang tidak baku dan sering terbolak-balik juga dicopy habis-habisan oleh Kiyu :|

Dengan terus-terusan bertanya negasinya, Kiyu dengan sendirinya tahu pola hubungan sebab akibat dengan jelas. Jadi ketika adiknya dengan bebas bereksplorasi di tempat duduk besar di blok ke 4 dari rumah kami, Kiyu menasehati adiknya, “Dek hati-hati lho, ini kan licin bekasnya air hujan. Kalo gak hati-hati nanti jatuh lho!”. Hehe, good!. Ini codenya:

function mainLompatlompatan():void {
_arenaBermain = "lantainya licin bekas air hujan";


if (hati-hati lompatnya) then {
println("kamu selamat");
} else {
println("kamu jatuh");
}
}

Selanjutnya jadi lebih mudah jelasin hal baru dan proses ngenalin tanggungjawab :) .

El, Bicara Dengan Bahasa Tubuh

El saat ini umur 16 bulan. Kecepatan berbicaranya di umur ini hampir sama dengan Kiyu. Maksudnya tidak banyak kosa kata yang diucapkan :D . El bisa dengan jelas memanggil Mama, Bapak, Maem. Lainnya bobok, pupu (kupu-kupu), aba (laba-laba), dutup (tutup), atu, tek (trek), adi (lagi), dan bernyanyi auuuuuwaaaa, go go go go (go die go go), mungkin masih ada yang lain tapi saat ngetik ini aku rada lupa. Sedangkan ponakanku yang cewek umur 16 bulan katanya sudah bisa berbicara satu kalimat dengan 3 kata!. Kata suami karena lingkungannya cerewet-cerewet dengan intonasi yang tegas dan yang ngajak bicara orang sekampung :D .

Anak kedua aku gak gelisah, beda dengan Kiyu dulu. Di umur 20 bulan, kok kosa kata yang diucapkan duikit men, padahal tiap saat aku ajak bicara mulu apalagi ekspresinya Kiyu cuek kayak gak merhatikan ucapanku :( . Kata mbak Erni, Kiyu bingung Nike paling batinnya “Mama ngomong apa aja sii.. enak maen ini”, hehe. Toh sekarang Kiyu ngomonggg aja, kadang capek juga kudu nanggepi terus.

Oh ya, meskipun El sedikit yang diverbalkan. Tapi dia cukup mengerti kalo kami bilang:
- “Tolong buang ke tempat sampah ya..” atau “Tolong bajunya taruh di tempat cucian ya..”. El membawanya menuju ke tempat yang saya maksud.
- “Adik mau bobok di mana, kamar depan apa kamarnya tante?”. Langsung bergerak menuju kamar yang dimaksud.
- “Kalo mau ikut ambil sepatunya”. El langsung ke rak sepatu ambil sepatu.
- “Tolong berdiri dan lompat-lompat….”.
- “Mandi yuk, lepas celananya”. Eh ni anak udah bisa nurunin celana, haha.
dan lain lain.

Mama Nike, El, Kiyu

Kadang aku coba si seperti pengalaman mbak Maria di bukunya “Anakku Tidak (Mau) Sekolah”, gak nurutin maunya sampai anaknya tergerak mau ngomong. Tapi sepertinya saat ini anaknya agak tersiksa ^-^. Ya sudah gak papa. Mungkin yang membuat aku gak gelisah, karena El cukup komunikatif dengan mengekspresikan kalau dia mengerti melalui bahasa tubuh.

So, terlambat bicara bukan berarti tidak jenius. Hihii, tak perlulah terpancing emosi balapan cepet-cepetan ngomong dengan bayi lainnya.

Bermain Terus, Don’t Worry Be Happy Mama

Di satu pagi tepat setelah aku bekerja keras memandikan dan memakaikan baju 2 anak yang berlarian terus, hujan turun. Kiyu memandangi tetesan hujan dengan wajah tergiur ingin merasakan badannya satu persatu terkena tetesan air hujan. Badannya mulai mendekat ke air hujan sembari melirikku nakal. “Hff, Kak Kiyu kan baru saja mandi ya. Jangan hujan-hujanan dulu ya. Boleh si, tapi ntar habis hujan-hujanan mandi sendiri ya, mama capek mandiin lagi, mama laper mo makan dulu”, ucapku. Lalu terjadilah debat kata dan debat fisik, hehe.

Sore hari, Kiyu siap-siap mandi. Seperti biasa dia mengambil 2 mainan untuk teman mandi, tiba-tiba hujan turun. Horeeey!. “Kaaak, hujan ni, ayokkk hujan-hujanan!. Heran, Kiyu gak mau. Aku coba goda dia, aku angkat ke luar halaman, tapi anaknya tetep gak mau, geyel mau mandi sambil mengapung-ngapungkan mainannya di bak, padahal ini rutinitas tiap mandi!.

Hmm rupanya semenarik apapun tawaran orang tua, kalo anaknya lagi pengen yang lain ya tetep aja gak mau. Pantesan tawaran unit study ku sering ditolak Kiyu padahal jelas-jelas materi yang dia suka.

Ada cerita lain yang seringkali kami temui di keseharian Kiyu yang kurang bisa bergerak cepat. Contoh ketika kami buru-buru pulang dari tempat cuci mobil karna tidak betah kepanasan, Kiyu tidak menggubris kami sama sekali, malah sebelum naik mobil berhenti sejenak seperti melamun (nohh bikin geregetan kan) lalu bertanya, “Ma kenapa atapnya pom bensin kok warnanya merah dan putih?”.

O ow, rupanya sediam-diamnya anak, bukanlah melamun, otak mereka super, bukan melamun Ma, tapi berpikir!. Emang Mama :p

Aku yang kadang-kadang lupa garis-garis haluan mendidik anak yang gak boleh melampiaskan emosi negatif, gak boleh maksa, gak boleh sering melarang, dan bingung lihat anak yang seharian sibuk dengan mainannyaaaa aja, kini nyoba melebur kembali ke dunia mereka.

Asyiknya Bermain

Suatu siang Kiyu aku ajak bikin gelembung, tapi dia gak minat padahal hari sebelumnya ingin banget, yang terlihat menarik baginya yang ada di depan mata ketika itu. Sepeda!. Ya, Kiyu lagi seneng-senengnya bisa bersepeda mengayuh dengan kedua kakinya secara bergantian (biasanya yang menekan cuma kaki kanan). Mending kalo sore, la siang bolong teriknya Surabaya. Coba ah, ok deh aku turuti dengan syarat, “Ya deh bersepeda, tapi Mama gak ngikuti ya, karena ini siang Mama gak betah panas, Mama tungguin duduk di depan pagar, kamu bersepeda aja tapi jangan belok terlalu jauh biar bisa dilihat Mama”. Kiyu setuju. Tapi biasalah, bukan Kiyu kalo cuma bersepeda, ya mampir-mampir dalam waktu yang tidak sebentar. Ambil daun, kayu, batu, main daun putri malu. Apalagi adiknya ikut-ikut. Naaa ternyata Mamanya akhirnya juga ikut-ikut :D . Foila! Read more

Kue Hasil Kerjasama Aku & Kiyu

Aku jarang sekali membuat kue untuk anak-anak. Tapi karena ada 2 bungkus biskuit MPASI gratis dari Posyandu, maka cari-cari resep untuk mengolah biskuit ini yang bisa dibuat bersama Kiyu. Nah, ini resep umum yang simple, si bola-bola coklat!. Hmmm Kiyu pasti suka, karena dia meises & chocolate addict!.

Dari berbagai sumber (salah satunya di sini) dan pengalaman pribadi saat belajar memasak, telah terbukti bahwa memasak itu banyak unsur science-nya. Untuk bola-bola coklat ini, bisa belajar tentang meleleh, membeku, dan unsur perekatnya makanan. Kesan pertama bagi Kiyu adalah sensasi bisa membuat kue dan taste-nya, lah wong biskuit baru dihancurin dan dikasih susu aja, bagi Kiyu udah enak dan sesendok demi sesendok mendarat di mulut mungilnya, haha. Apalagi rasa penasaran menunggu coklatnya yang beku, waktu itu aku salah ucap, “Tunggu coklatnya beku dulu, kira-kira nanti kalo adik sudah bangun tidur (adiknya baru bobok), coklatnya sudah beku dan siap dimakan”. What happen then?. Kiyu masuk kamar lalu terdengar suara tangis adiknya… , Kiyu bilang, “Mamaaa… bola coklatnya boleh dimakan sekarang ya..yaaa??!”. Waduw, dibangunin! :D .

This is it! Bola-bola coklat ala Kiyu dan Mama:
kue bola coklat

Lihat betapa nikmatnya anak-anakku makan bola coklat ini, bener enak ya nak?? :D
Kiyu & El menikmati bola cokat

Belajar Angka Dari Kalender Dan Jam

Menghitung 1-100 secara sequensial, masih membosankan bagi Kiyu. Jadi untuk memperkenalkan angka-angka > 10 aku gunakan kalender dan jam. Untuk kalender, dengan melingkari tanggal tiap harinya. Selain belajar angka, belajar motorik halus (melingkari) dan belajar konsep waktu (sekarang, kemarin, dan besok). Kegiatan melingkari kalender bertahan hampir satu bulan. Meskipun konsep waktunya kurang mengena 100%, tapi Kiyu mulai bisa menyebut angka puluhan tentunya secara simbolis.

Kiyu membaca kalender

Untuk jam, menyebut angka yang ditunjuk dengan jarum pendek. Lumayan lho untuk belajar sedikit demi sedikit tentang disiplin waktu, karena Kiyu suka ketika jam menunjuk angka delapan, maka aku manfaatin untuk ngasih tau waktunya bobok, “Ayo waktunya bobok… badannya istirahat dulu, lompat-lompat dan lari-larinya kalo sudah bangun tidur ya….”. He he.