Shalahuddin Al-Ayyubi
Sang Pejuang Islam
Muhammad ash-Shayim
Gema Insani Press
73 halaman
______________________
Salah satu agenda kajian di forum kecil ku yang disebut dengan liqoah, yaitu bedah buku. Minggu kemarin giliranku menjadi pembicara bedah buku. Karena waktuku cuman dikit, kebanyakan ribut dengan tugas-tugas kuliah, jadinya nyari buku tipis-tipis aja yang bisa dibaca 30 menit sampe 1 jam. Akhirnya kutemukan kembali bukuku yang lamaaaaaaa gak tak baca, ya ini cerita sang panglima besar di dienku.
Ringkasnya seperti ini, Shalahuddin yang mempunyai nama asli Abul Muzaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub bin Syaadi lahir di Utara Irak, Tekrit pada tahun 1137 M dan meninggal pada tahun 1192 M di Damaskus. Beliau dibesarkan di lingkungan yang mempuyai jiwa pemimpin dan panglima perang yang hebat, diantaranya ayahnya sendiri, paman dan teman dari ayahnya tempat beliau ‘nunut’ tinggal akibat pemberhentian kekuasaan ayahnya sepihak oleh penguasa negaranya pada saat itu. Sekali lagi, memang lingkungan amat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi.
Apa saja yang menarik dari perjalanan hidup beliau yang berakhir ceritanya sampai di usia 55 tahun? Melakukan sesuatu yang berarti sejak dini, pada usia 16 tahun sudah ikut menjadi pejuang, usia 25 ikut serta menundukkan Daulah Fathimiyah dan berhasil, hingga pada usia 33 tahun telah dipercaya menjadi Sultan di Mesir!. Setelah itu, beliau banyak mencurahkan perhatiannya pada peperangan2, salah satu perang terbesar yang berhasil dimenangkan olehnya karena strateginya yang bagus yaitu Perang Salib. Hingga penulis buku tersebut di akhir halaman menyebutkan bahwa penulis merindukan sosok Shalahuddin yang mampu menyatukan dan mengerahkan pasukan jihad utnuk membebaskan kembali Baitul Maqdis yang sampai sekarang diselimuti oleh peperangan tiada henti.
Yang aku suka dari sosok Shalahuddin adalah ketegasan beliau seperti Umar bin Khattab, seperti pernyatannya yang seperti ini:
Ia pun segera mengambil pedangnya dan berkata, “Hai pengkhianat, bukankah aku telah memperingatkan kamu berkali-kali? Karena itu balasanmu saat ini adalah hukum mati” Shalahuddin kemudian segera menusukkan pedangnya dan membunuh pengkhianat itu
Eit, bijaklah membaca kalimat ini ya, jangan lupa konteks kalimatnya di kondisi seperti apa
. Tapi disisi lain berhati lembut tidak totalitas membenci terhadap suatu kaum.
Hal berarti lainnya yang telah dilakukan oleh Shalahudin selama pemerintahannya yaitu, lebih perhatian terhadap majelis keilmuan dengan banyak mendirikan sekolah, institut dan universitas. Lalu kekurangannya? Ditulis dalam buku ini bahwa Shalahuddin menerapkan sistem feodalisme dalam perekonomiannya, ya.. Shalahuddin juga manusia
.
Kesimpulannya: bisakah kita menjadi sosok yang bernilai diusia kita yang pendek seperti sang panglima besar Shalahuddin Al-Ayyubi??. Haha, sekarang aku dah umur berapa ya…?
Tentang buku ini, ah begitu singkat dan banyak kejadian yang butuh penjelasan lebih rinci lagi kenapa terjadi yang seperti itu. Hi hi aku rada mumet baca buku ini, tapi kalo tebal mungkin jadi tambah gak sempat tak baca ya ^_^.
Recent Comments