Tupperware I love you!. Terlepas dari usahaku memasarkan produk tupperware. Memang patut diakui produknya memang ok banget, dan membuat ketagihan ingin membeli dan membeli terus. Tapi, gak seru rasanya kalo mendapatkan produk Tupperware tanpa usaha melalui prestasi keberhasilan menjual produk ini. Karena memang kesempatan untuk itu ada di proses menjalankan bisnis tupperware. Jadi tidak mendidik konsumtif kan.
Nah, aku coba mengadakan tupperware party. Karena aku cinta anak-anak, maka acaranya disertai menghias es krim untuk anak-anak. Jadi orang tuanya dapat pengalaman tahu produk tupperware yang berkualitas dan tepat guna, anak-anaknya juga dapat pengalaman berkreasi sesukanya.
Tapi sayang sekali, karena aku kurang sip bersosialisi dengan tetanggaku karena rumah kontrakanku yang depan sampingnya masih jarang ditempati dan jaraknya berjauhan, maka yang datang kurang optimal. It’s OK, jadi masukan untuk selanjutnya.
Inilah dokumentasi tuppy partyku. Itu ada produk chopper (berwarna merah) yang sempat digunakan saat menghancurkan oreo untuk topping es krim. Hadiah untuk aku si Nyonya Rumah, Pocket Freezer Mate!. Whoaaa, pas produk impianku. Thanks Tupperware.
Mau jadi nyonya rumah juga, kontak aku ya.
Sayang banget kalo dilewatkan. Inilah pertama kalinya Kiyu dirayakan ulang tahunnya plus ortunya merasakan senangnya melihat 2 anak ultah bareng tanggal 19 Januari
. Ulang tahun dirayakan di Gambirono, Jember, kampung halamanku. Kue tartnya pesan di dekat rumahku yang ada di desa. Sebenarnya gak muluk-muluk pesan tartnya, untuk El temanya kucing terserah bentuknya apa, untuk Kiyu temanya kalo gak kereta Thomas, Buaya, atau SpongeBob sebisa yang buat tart. Tapi gitu aja si pembuat tart mengeluh kesulitan dan bilang sama sodaraku, “aduuhhh aneh-aneh aja pesenan anaknya Pak Tris itu”, hihi emang temanku Yulia atau mbak Maria yang jago decorate cake!. Tapi hasilnya bagus kok, karena aku gak bisa membuat sebagus itu ^_^.

Tidak kusangka Kiyu cukup senang dengan seremonial ultah. Read more
Melanjutkan tulisan tentang El yang peka dengan suara, di umurnya yang hampir satu tahun ini El semakin menunjukkan kepekaannya dengan suara khususnya musik. Misalnya saja ketika lagi duduk-duduk di bawah meja kerja Bapaknya (agaknya ini jadi rumah kecilnya El) lalu terdengar suara backsound Metro TV pertanda back from iklan, El buru-buru merangkak keluar kamar segera nonton TV. Segera setelah suara musik yang cuman 30 detik itu habis, El kembali main lagi.

Yang lebih lucu dan menggemaskan, El punya gaya menari sendiri gak niru siapapun dan gerakannya itu lho bisa pas dengan musiknya. Kalo musiknya slow goyangin tanggannya sambil duduk. Kalo musiknya ngebeat langsung berdiri pegangan meja komputer sambil memukul-mukulkan kakinya. Trus bergantian goyang-goyang kepala, gerak-gerakin tangan, lalu kakinya. Kadang ngepasin gaya, berdiri gak pas, trus duduk, trus berdiri lagi ^-^.
Saat terpikir ingin menulis tentang ini, aku sedang nonton acara Kick Andy seri Tunas-Tunas Harapan Bangsa. Read more
Make bahasa Indonesia emang maknyus, hampir semua orang di negri ini mengerti dengan baik. Tapi untuk beberapa hal, bahasa daerahpun perlu dikuasai terutama untuk lobying. Lobi sama sapa emang? Tukang sayur, wakakakaka! Eit, pernah temen kerjaku dulu minta diajari bahasa madura buat nego2 sama pengusaha besi tua, konon kalo mengerti madura lebih gampang juga negonya. Cuma sayangnya aku madura pasif. Di pasar grosir, bermacam-macam orang ada, kalo kita bisa menguasai banyak bahasa misal jowo kromo, madura rada halus, mandarin, waaa oke tu acara nego-nego harga2 dan mereka merasa lebih dihargai jika kita bisa melebur ke dalam bahasa mereka.
Kampung halaman tempat aku dibesarkan yaitu desa Gambirono, Bangsalsari, Jember, Jawa Timur, bahasa sehari-harinya gak jelas, banyak kata serapan dari bahasa jawa kasar dan madura kasar, dan tak pernah berboso ria. Tapi kalo bertandang di rumah sodara terutama ke mbah-mbah kudu boso kromo, nah lo, piye ki. Akhirnya kalo sama orang yang lebih tua dan “menuntut” di boso kromoi aku jadi banyak diem, kalo ngomong belepotan. Dan ini dia yang akhirnya jadi kebawa sampe sekarang, kurang terbiasa komunikatif sama orang tua.
Dulu ketika kang amru menyampaikan proposal pernikahan, cieee, karena tahu beliaunya asli madiun yaitu tempatnya orang jawa alus, aku langsung bilang: “Aku gak bisa boso kromo loo…!”. Untungnya ibu mertuaku orangnya gaul, hihihi maksudnya bukan tipe yang menuntut boso kromo. Pertama kali ketemu, aku diajak bahasa Indonesia. Tapi lama-lama, aku sedikit-sedikit berkromo ria meskipun aku jadi terlihat agak o’on. Habisnya otakku rada error, kalo tak query aku minta boso kromonya A, yang keluar malah kata bahasa Inggris, wataaaawwww!!!, meskipun aku ni gak terbiasa ngomong bhs inggris juga. Guru pertamaku belajar boso kromo, bukan suamiku seperti yang pernah ia janjikan dulu (tsah!), tapi ponakan di madiun yang umurnya 5 tahunan!. Dia suka cerita, tapi ya gitu ceritanya dalam bahasa krama, aduh maaak!, aku jadi susah ngemongnya.
Kalo dibandingin sama dulu,
Read more
Sang Anak
Kahlil Gibran
Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, namun bukan hakmu
Berikan mereka kasih sayangmu,
tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu.
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah maha tahu sasaran bidikan keabadian,
Dia merentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat jauh, serta cepat.
Meliuklah dengan sukacita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
Read more
Recent Comments