Make bahasa Indonesia emang maknyus, hampir semua orang di negri ini mengerti dengan baik. Tapi untuk beberapa hal, bahasa daerahpun perlu dikuasai terutama untuk lobying. Lobi sama sapa emang? Tukang sayur, wakakakaka! Eit, pernah temen kerjaku dulu minta diajari bahasa madura buat nego2 sama pengusaha besi tua, konon kalo mengerti madura lebih gampang juga negonya. Cuma sayangnya aku madura pasif. Di pasar grosir, bermacam-macam orang ada, kalo kita bisa menguasai banyak bahasa misal jowo kromo, madura rada halus, mandarin, waaa oke tu acara nego-nego harga2 dan mereka merasa lebih dihargai jika kita bisa melebur ke dalam bahasa mereka.
Kampung halaman tempat aku dibesarkan yaitu desa Gambirono, Bangsalsari, Jember, Jawa Timur, bahasa sehari-harinya gak jelas, banyak kata serapan dari bahasa jawa kasar dan madura kasar, dan tak pernah berboso ria. Tapi kalo bertandang di rumah sodara terutama ke mbah-mbah kudu boso kromo, nah lo, piye ki. Akhirnya kalo sama orang yang lebih tua dan “menuntut” di boso kromoi aku jadi banyak diem, kalo ngomong belepotan. Dan ini dia yang akhirnya jadi kebawa sampe sekarang, kurang terbiasa komunikatif sama orang tua.
Dulu ketika kang amru menyampaikan proposal pernikahan, cieee, karena tahu beliaunya asli madiun yaitu tempatnya orang jawa alus, aku langsung bilang: “Aku gak bisa boso kromo loo…!”. Untungnya ibu mertuaku orangnya gaul, hihihi maksudnya bukan tipe yang menuntut boso kromo. Pertama kali ketemu, aku diajak bahasa Indonesia. Tapi lama-lama, aku sedikit-sedikit berkromo ria meskipun aku jadi terlihat agak o’on. Habisnya otakku rada error, kalo tak query aku minta boso kromonya A, yang keluar malah kata bahasa Inggris, wataaaawwww!!!, meskipun aku ni gak terbiasa ngomong bhs inggris juga. Guru pertamaku belajar boso kromo, bukan suamiku seperti yang pernah ia janjikan dulu (tsah!), tapi ponakan di madiun yang umurnya 5 tahunan!. Dia suka cerita, tapi ya gitu ceritanya dalam bahasa krama, aduh maaak!, aku jadi susah ngemongnya.
Kalo dibandingin sama dulu,
Recent Comments