Aku jarang sekali membuat kue untuk anak-anak. Tapi karena ada 2 bungkus biskuit MPASI gratis dari Posyandu, maka cari-cari resep untuk mengolah biskuit ini yang bisa dibuat bersama Kiyu. Nah, ini resep umum yang simple, si bola-bola coklat!. Hmmm Kiyu pasti suka, karena dia meises & chocolate addict!.
Dari berbagai sumber (salah satunya di sini) dan pengalaman pribadi saat belajar memasak, telah terbukti bahwa memasak itu banyak unsur science-nya. Untuk bola-bola coklat ini, bisa belajar tentang meleleh, membeku, dan unsur perekatnya makanan. Kesan pertama bagi Kiyu adalah sensasi bisa membuat kue dan taste-nya, lah wong biskuit baru dihancurin dan dikasih susu aja, bagi Kiyu udah enak dan sesendok demi sesendok mendarat di mulut mungilnya, haha. Apalagi rasa penasaran menunggu coklatnya yang beku, waktu itu aku salah ucap, “Tunggu coklatnya beku dulu, kira-kira nanti kalo adik sudah bangun tidur (adiknya baru bobok), coklatnya sudah beku dan siap dimakan”. What happen then?. Kiyu masuk kamar lalu terdengar suara tangis adiknya… , Kiyu bilang, “Mamaaa… bola coklatnya boleh dimakan sekarang ya..yaaa??!”. Waduw, dibangunin!
.
This is it! Bola-bola coklat ala Kiyu dan Mama:

Lihat betapa nikmatnya anak-anakku makan bola coklat ini, bener enak ya nak?? 

Sebelumnya kami sering membuat clay dari tepung, caranya:
1. Campur tepung terigu bekas dengan lem putih/lem kayu merk Fox (bisa dibeli di toko bangunan).
2. Uleni sampai kalis dan tidak lengket di tangan, pufhhh ini kerjaan yang butuh kesabaran dan ketabahan, hiks bukan aku banget. Jika terlalu lembek tambah tepungnya, jika terlalu kaku tambah lemnya atau beri baby oil/hand body lotion.
3. Pisahkan beberapa bagian, masing-masing beri warna menggunakan pewarna makanan/cat air, uleni lagi masing-masing sampai warnanya tercampur rata.
Adonan ini bisa disimpan di lemari es, saat mau menggunakan kembali tetesi adonan dengan baby oil/hand body lotion lalu uleni sebentar. Cara ini aku dapatkan dari buku dan berbagai blog penggemar craft clay. Oh ya aku beli beberapa cetakan kue sebagai pendukung dan botol bekas YouCseribu untuk meratakan clay. Dan botol ini aku jadikan analogi cara kerja buldozer yang kerja di perumahan untuk meratakan tanah.
Enaknya clay seperti ini bahannya murah meriah dan hasilnya bisa dikumpulkan atau dipajang. Gak enaknya, saat Kiyu kepengen banget buat clay, dia harus sabar nunggu aku yang nguleni tepung. Seiring berjalannya waktu, Kiyu yang mulai bisa nentuin sendiri kegiatannya seperti sedang ingin membuat clay ini, kadang di saat-saat yang tidak tepat bagi aku. Nah, akhirnya aku belikan saja malam (playdough murah meriah, bukan malam lawannya siang lo yaaa :p ). Inilah clay pertama yang original karya Kiyu:

Kiyu mempresentasikan karyanya, “Ini matanya, ini mulutnya, ini ekorlnya!”. “Hebat kamu nak!”.
Seiring berjalannya waktu lagi, ternyata pake malam ada gak enaknya, dalam 3 kali pemakaian warnanya udah kecampur-campur, trus hilang deh. Haruskah beli malam terus-menerus, atau aku duduk saja sampai siang mengganti malam??
.
Masih berlanjut dengan tema warna seperti sebelumnya. Berikut detil kegiatan putih dan biru.
Putih
- Lagu: ngadopsi dari lagu Old McDonald had a farm.
Kulihat banyak domba
ia ia o…
Bulunya tebal sekali
warnanya putih..
Putih putih putih putih
Bulunya putih
iaaa iaaa ooo…
Lagu ini banyak digemari anak-anak terbukti tante kecilnya gampang banget ngikuti, soalnya ada “ia ia oo” nya ituhh.
- permainan 1: ngumpulin semua benda-benda warna putih: kaos dalem, mangkuk, kapas, kertas, garpu, topi. Maen simsalabim, apa yang hilang?
- permainan 2: lomba rebutan ngambil kapas putih dan penjepit jemuran warna putih. Kelihatannya yang ini sederhana banget, tapi kiyu senengnya bukan maen dan banyak pembelajarannya buat dia, diantaranya ngenalin tentang lomba, berhitung (123 sebelum lari dan jumlah penjepit yang dia dapet), dan motorik kasar (hmm mamanya juga jadi gerak nih
). Dan ini bisa lebih seru lagi kalo ntar adiknya udah besar 

- craft 1: membuat bulu domba dari kapas. Aku gambar dombanya dulu, trus ajak kiyu mewarnai kepala dan kaki domba, hmmm karna dia ngasih warnanya tebal banget dan keluar-keluar dari garis, maka Read more
Entah tiba-tiba ingat lagu di pramuka dulu, trus aku ganti liriknya:
Kalo kau lihat rumput warnanya apa? Hijau!
Kalo kau lihat apel warnanya apa? Merah!
Merah tandanya? Stop!
Hijau tandanya? Jalan!
Kini ku tahu merah dan hijau.
Aku contohin ke kiyu, trus aku nyanyiin bait pertama:
“Kalo kau lihat rumput warnanya apa?”
Dengan sigap dia jawab sambil setengah lompat dan ketawa, “Elah!!!” (merah!). Klklklk aku sama kang amru ketawa2.

Hmm banyak cerita dibalik lagu pramuka ini. Sampek aku dan kiyu mabok warna merah dan hijau selama sebulan lebih. Dan aku jadi tahu gimana caranya mempraktekkan belajar model unit study ke balita. Santai aja, kalo anak gak mood ya tunda aja, tapi dicatet biar gak lupa kalo diselingi dengan kegiatan lain. Eh gak kerasa kiyu ngerti dengan sendirinya.
Ide kegiatannya aku ngambil dari sini dengan judul Red unit themes dan Green unit themes, diambil yang cocok dan ditambah-tambahin sesuai resource yang ada. Dan inilah kegiatan yang sesuai minat kiyu:
<b> Merah </b>
- Berhari-hari pake baju warna merah
Read more
Handpainting bagusnya, apa yang diinginkan otak untuk membentuk garis, lengkung, gambar bisa ditransfer ke syaraf tangan untuk langsung gerakin, dari pada make crayon ato pensil, dimana otak kudu mikir lagi buat ngarahin media tulis tadi sebelum tujuan garis dan lengkung terkabul. Udah lama pengen nyobain handpainting ke kiyu. Trus nanya bahan yang aman buat balita ke milis sekolah rumah, dapet deh ide yang cukup kreatif yaitu bahan cat dari tepung maizena dan pewarna makanan!. Untuk kanvasnya aku pake kertas hvs putih aja. Sebelum mulai melukis aku bikin sketsa gambar hewan dulu pake bolpoint, buat ngarahin kerangka berpikirnya kalo gambar itu buat sesuatu, jadi gak asal corat-coret. Ini dia kiyu yang lagi asik moles-moles:

Kiyu menikmati si pas gambar-gambar gitu, cuman anaknya kayaknya rada rancu aktifitas gambar dengan mainan makanan. Dia pas ngasih warna bebek, berulang-ulang bilang, “bebek… mimik!”. Oh pantes, soalnya aku wadahin “cat tepung maizena”-nya di mangkok makannya, hihihi, makanya dia mengasosiasikan cairan catnya dengan minuman.
Hasil karya handpainting pake tepung maizena yang udah kering gak bisa diabadikan, soalnya hasilnya retak-retak. Tapi tetep aja tak simpen, pas satu hari tak tunjukin lagi ke anaknya, dia bilang “bebek mimik!, ikan.. ikan”. “Sapa yang gambar ni?”. “Kiyu….”. Trus mulai deh ngambil mangkoknya minta dibikinin cat. Aku si kadang nuruti kadang nggak, habisnya mo mulai aktifitas ini belibet banget, trus selesainya kudu bersihin cat yang tercecer, hehe.
Recent Comments