Bayi, lapbook pertamanya Kiyu

Aku sedang senang dan cocok dengan gaya belajar tematik atau Unit Study. Kalo kiyu apa aja senang, asal banyak kegiatan dan tidak dipaksa. Sehingga aku pengen nyoba membuat lapbook bersama Kiyu, karena lapbook sebagai salah satu cara mendokumentasikan portfolio belajar secara tematik dan Kiyu sudah sering tempel-tempel di papan madingnya. Sebagai langkah awal, kami membuat karyanya sedikit-sedikit, gak langsung ngerjain di lapbooknya, karena bayanganku nanti lapbooknya bakal digunting-gunting sebelum jadi :D .

Sebelum menempel karya-karyanya ke lapbook, aku nanya:
“Kak Kiyu pengen buat lapbook (kiyu belum ngerti apa itu lapbook) tentang bayi apa tentang kereta?”
“Tentang Bayi!!!! Adek El !”. Hi hi kebetulan, padahal tebakanku dia mo jawab kereta.

Berikut hasil lapbooknya:
Sampul
Tulisan bayi dan gambar bayi. Kiyu yang menggunting dan menempel gambar bayi, diambil dari hadiah posternya majalah.
Sampul Lapbook Bayi

Halaman 1, Adek El bisa
Memilih gambar-gambar bayi dari KMS, sesuai dengan yang sudah bisa dilakukan oleh adiknya. Read more

Clay Pertamanya Kiyu!

Sebelumnya kami sering membuat clay dari tepung, caranya:
1. Campur tepung terigu bekas dengan lem putih/lem kayu merk Fox (bisa dibeli di toko bangunan).
2. Uleni sampai kalis dan tidak lengket di tangan, pufhhh ini kerjaan yang butuh kesabaran dan ketabahan, hiks bukan aku banget. Jika terlalu lembek tambah tepungnya, jika terlalu kaku tambah lemnya atau beri baby oil/hand body lotion.
3. Pisahkan beberapa bagian, masing-masing beri warna menggunakan pewarna makanan/cat air, uleni lagi masing-masing sampai warnanya tercampur rata.
Adonan ini bisa disimpan di lemari es, saat mau menggunakan kembali tetesi adonan dengan baby oil/hand body lotion lalu uleni sebentar. Cara ini aku dapatkan dari buku dan berbagai blog penggemar craft clay. Oh ya aku beli beberapa cetakan kue sebagai pendukung dan botol bekas YouCseribu untuk meratakan clay. Dan botol ini aku jadikan analogi cara kerja buldozer yang kerja di perumahan untuk meratakan tanah.

Enaknya clay seperti ini bahannya murah meriah dan hasilnya bisa dikumpulkan atau dipajang. Gak enaknya, saat Kiyu kepengen banget buat clay, dia harus sabar nunggu aku yang nguleni tepung. Seiring berjalannya waktu, Kiyu yang mulai bisa nentuin sendiri kegiatannya seperti sedang ingin membuat clay ini, kadang di saat-saat yang tidak tepat bagi aku. Nah, akhirnya aku belikan saja malam (playdough murah meriah, bukan malam lawannya siang lo yaaa :p ). Inilah clay pertama yang original karya Kiyu:

Clay pertamanya Kiyu
Kiyu mempresentasikan karyanya, “Ini matanya, ini mulutnya, ini ekorlnya!”. “Hebat kamu nak!”.

Seiring berjalannya waktu lagi, ternyata pake malam ada gak enaknya, dalam 3 kali pemakaian warnanya udah kecampur-campur, trus hilang deh. Haruskah beli malam terus-menerus, atau aku duduk saja sampai siang mengganti malam?? :D .

Bunglon-bunglon di pohon yang berkamuflase

Saat itu motorik halus kiyu mulai bagus, yaitu mulai bisa menggunting dengan cara memegang yang benar dan gambarnya tidak tergunting dengan sempurna. Ini menarik bagiku, karena tanpa aku perhatikan tiba-tiba saja Kiyu bisa!. Kegiatan ini awalnya adalah mengerjakan worksheet memilih gambar bunglon yang terbesar, sedang, dan terkecil, dengan melingkari atau mewarnai gambar bunglon yang dimaksud. Karena Kiyu belum suka mewarnai Kiyu memilih menggunting-gunting gambar bunglon ini.
Kiyu menggunting bunglon
Sekali lagi, anak yang gak terpaku dengan perintah di worksheet seperti ibunya yang kenyang mengerjakan soal2 ini malah bisa mengarahkan untuk berpikir lebih kreatif. Jadi aku gak maksa Kiyu mewarnai, lalu aku gambar 2 pohon di kardus bekas susu dengan warna yang berbeda. Yang mewarnai aku dibantu sedikit sama Kiyu, trus aku arahin kalo bunglon itu kulitnya akan berubah warna menyesuaikan tempat bertenggernya. Kesempatan meragain bunglon yang berubah warna pake gambar-gambar yang udah digunting dengan gaya tukang sulap, “cring! wahh kulit bunglon berubah coklat kayak warna kulit pohon!”. Kali ini dapet ilmu menggunting, mengkategorikan, dan science kemampuan bunglon berubah warna.

Handpainting dengan pewarna makanan

Handpainting bagusnya, apa yang diinginkan otak untuk membentuk garis, lengkung, gambar bisa ditransfer ke syaraf tangan untuk langsung gerakin, dari pada make crayon ato pensil, dimana otak kudu mikir lagi buat ngarahin media tulis tadi sebelum tujuan garis dan lengkung terkabul. Udah lama pengen nyobain handpainting ke kiyu. Trus nanya bahan yang aman buat balita ke milis sekolah rumah, dapet deh ide yang cukup kreatif yaitu bahan cat dari tepung maizena dan pewarna makanan!. Untuk kanvasnya aku pake kertas hvs putih aja. Sebelum mulai melukis aku bikin sketsa gambar hewan dulu pake bolpoint, buat ngarahin kerangka berpikirnya kalo gambar itu buat sesuatu, jadi gak asal corat-coret. Ini dia kiyu yang lagi asik moles-moles:

 Kiyu handpainting

    Kiyu menikmati si pas gambar-gambar gitu, cuman anaknya kayaknya rada rancu aktifitas gambar dengan mainan makanan. Dia pas ngasih warna bebek, berulang-ulang bilang, “bebek… mimik!”. Oh pantes, soalnya aku wadahin “cat tepung maizena”-nya di mangkok makannya, hihihi, makanya dia mengasosiasikan cairan catnya dengan minuman.

Hasil karya handpainting pake tepung maizena yang udah kering gak bisa diabadikan, soalnya hasilnya retak-retak. Tapi tetep aja tak simpen, pas satu hari tak tunjukin lagi ke anaknya, dia bilang “bebek mimik!, ikan.. ikan”. “Sapa yang gambar ni?”. “Kiyu….”. Trus mulai deh ngambil mangkoknya minta dibikinin cat. Aku si kadang nuruti kadang nggak, habisnya mo mulai aktifitas ini belibet banget, trus selesainya kudu bersihin cat yang tercecer, hehe.

Kiyu Journal

Absen ngeblog? Ah biasa… blog kan suka-suka, hehe. Karenanya catetan-catetan tentang perjalanannya kiyu selama beberapa bulan sayang sekali kalo gak didokumentasikan. Ini dia resumenya kiyu:(eits, sori ya fotonya rada gak nyambung sama critanya)

kiyu_journal

Lomba Merangkak | desember2007
Wajib ditulis nii, karena ini pertama kalinya kiyu ikut kompetisi :D . Ini lomba yang diadain Bebelac di Royal Plaza Surabaya, usianya waktu itu 10 bulan, motivasi ikutan lomba yang pertama biar anaknya gak demam panggung soalnya dia ini kalo liat orang banyak yang belum dikenal suka dieemmm aja trus motivasi yang kedua yaa syukur banget kalo bisa menang, karna kiyu jago juga merangkak cepet dan lagi ntar kan kalo menang pasti difoto sama mamanya, hehe. Hasilnya gimana? Alhamdulillah dia bisa merangkak dengan cepat meski harus dengan susah payah mengalihkan perhatian sama balon-balon oranye punya temennya, tapi sayangnya pas mo nyampek, karena posisinya dipinggir panggung yang otomatis deket banget sama penonton yang teriak -teriak support, eh ni anak berenti dan senyam-senyum ke penonton. Akhirnya mama dan kiyu belum dapet kesempatan difoto bareng sambil pegang hadiah :D .

Read more