Bermain Terus, Don’t Worry Be Happy Mama

Di satu pagi tepat setelah aku bekerja keras memandikan dan memakaikan baju 2 anak yang berlarian terus, hujan turun. Kiyu memandangi tetesan hujan dengan wajah tergiur ingin merasakan badannya satu persatu terkena tetesan air hujan. Badannya mulai mendekat ke air hujan sembari melirikku nakal. “Hff, Kak Kiyu kan baru saja mandi ya. Jangan hujan-hujanan dulu ya. Boleh si, tapi ntar habis hujan-hujanan mandi sendiri ya, mama capek mandiin lagi, mama laper mo makan dulu”, ucapku. Lalu terjadilah debat kata dan debat fisik, hehe.

Sore hari, Kiyu siap-siap mandi. Seperti biasa dia mengambil 2 mainan untuk teman mandi, tiba-tiba hujan turun. Horeeey!. “Kaaak, hujan ni, ayokkk hujan-hujanan!. Heran, Kiyu gak mau. Aku coba goda dia, aku angkat ke luar halaman, tapi anaknya tetep gak mau, geyel mau mandi sambil mengapung-ngapungkan mainannya di bak, padahal ini rutinitas tiap mandi!.

Hmm rupanya semenarik apapun tawaran orang tua, kalo anaknya lagi pengen yang lain ya tetep aja gak mau. Pantesan tawaran unit study ku sering ditolak Kiyu padahal jelas-jelas materi yang dia suka.

Ada cerita lain yang seringkali kami temui di keseharian Kiyu yang kurang bisa bergerak cepat. Contoh ketika kami buru-buru pulang dari tempat cuci mobil karna tidak betah kepanasan, Kiyu tidak menggubris kami sama sekali, malah sebelum naik mobil berhenti sejenak seperti melamun (nohh bikin geregetan kan) lalu bertanya, “Ma kenapa atapnya pom bensin kok warnanya merah dan putih?”.

O ow, rupanya sediam-diamnya anak, bukanlah melamun, otak mereka super, bukan melamun Ma, tapi berpikir!. Emang Mama :p

Aku yang kadang-kadang lupa garis-garis haluan mendidik anak yang gak boleh melampiaskan emosi negatif, gak boleh maksa, gak boleh sering melarang, dan bingung lihat anak yang seharian sibuk dengan mainannyaaaa aja, kini nyoba melebur kembali ke dunia mereka.

Asyiknya Bermain

Suatu siang Kiyu aku ajak bikin gelembung, tapi dia gak minat padahal hari sebelumnya ingin banget, yang terlihat menarik baginya yang ada di depan mata ketika itu. Sepeda!. Ya, Kiyu lagi seneng-senengnya bisa bersepeda mengayuh dengan kedua kakinya secara bergantian (biasanya yang menekan cuma kaki kanan). Mending kalo sore, la siang bolong teriknya Surabaya. Coba ah, ok deh aku turuti dengan syarat, “Ya deh bersepeda, tapi Mama gak ngikuti ya, karena ini siang Mama gak betah panas, Mama tungguin duduk di depan pagar, kamu bersepeda aja tapi jangan belok terlalu jauh biar bisa dilihat Mama”. Kiyu setuju. Tapi biasalah, bukan Kiyu kalo cuma bersepeda, ya mampir-mampir dalam waktu yang tidak sebentar. Ambil daun, kayu, batu, main daun putri malu. Apalagi adiknya ikut-ikut. Naaa ternyata Mamanya akhirnya juga ikut-ikut :D . Foila! Read more

Kue Hasil Kerjasama Aku & Kiyu

Aku jarang sekali membuat kue untuk anak-anak. Tapi karena ada 2 bungkus biskuit MPASI gratis dari Posyandu, maka cari-cari resep untuk mengolah biskuit ini yang bisa dibuat bersama Kiyu. Nah, ini resep umum yang simple, si bola-bola coklat!. Hmmm Kiyu pasti suka, karena dia meises & chocolate addict!.

Dari berbagai sumber (salah satunya di sini) dan pengalaman pribadi saat belajar memasak, telah terbukti bahwa memasak itu banyak unsur science-nya. Untuk bola-bola coklat ini, bisa belajar tentang meleleh, membeku, dan unsur perekatnya makanan. Kesan pertama bagi Kiyu adalah sensasi bisa membuat kue dan taste-nya, lah wong biskuit baru dihancurin dan dikasih susu aja, bagi Kiyu udah enak dan sesendok demi sesendok mendarat di mulut mungilnya, haha. Apalagi rasa penasaran menunggu coklatnya yang beku, waktu itu aku salah ucap, “Tunggu coklatnya beku dulu, kira-kira nanti kalo adik sudah bangun tidur (adiknya baru bobok), coklatnya sudah beku dan siap dimakan”. What happen then?. Kiyu masuk kamar lalu terdengar suara tangis adiknya… , Kiyu bilang, “Mamaaa… bola coklatnya boleh dimakan sekarang ya..yaaa??!”. Waduw, dibangunin! :D .

This is it! Bola-bola coklat ala Kiyu dan Mama:
kue bola coklat

Lihat betapa nikmatnya anak-anakku makan bola coklat ini, bener enak ya nak?? :D
Kiyu & El menikmati bola cokat

Field Trip Dunia Air

Akhir bulan November 2009 kemaren, kami serasa “ditraktir” jalan-jalan selama 2 minggu terus-terusan sama suami. Biasanya suami sibuk kerja terus-terusan jarang banget mau diajak jalan-jalan, kali ini suami mencutikan diri dari work at home nya, jadi ini berkah tersendiri bagi kami sekeluarga, hehe. Terima kasih suamiku. Sekarang aku merelakan dirimu kerja kapan aja semaumu, haha.

Berlibur ke Sarangan

Lokasi berlibur kemaren di Madiun rumah keluarga suami. Selama 2 minggu itu kegiatannya mengublek-ublek Madiun. Yang ditulis di sini tempat selain mall. Acara field trip pertama, Kiyu bermain di sungai bareng sodara-sodaranya di dekat rumah mbah yut desa Ndarjo. Sebenernya tujuannya bermain di sungai, belagak orang kota yang gak kenal sungai ya?! haha. Tapi selanjutnya anak-anak malah mandi, yo ga papa sekali-kali, toh sungainya gak kayak sungai Surabaya. Di sungai dengan ekspresifnya Kiyu teriak, “Ma…. di dalam sungai ada
batu-batunya!”. Nah, batunya licin berlumut, Kiyu jadi tahu tentang lumut. Trus di pinggir sungai ada cuyu alias kepiting sungai, untung Omanya pemberani, jadi ngasih tahu Kiyu sambil megangin cuyunya, sesekali dicapit juga Oma. Jangan bayangin Omanya Kiyu nenek-nenek, ini Omanya masih muda seumuran suami :) .

Liburan bertema air lain yang diidam-idamkan Kiyu yaitu telaga Sarangan. Di sini ada speed boat dan kuda Read more

Bunglon-bunglon di pohon yang berkamuflase

Saat itu motorik halus kiyu mulai bagus, yaitu mulai bisa menggunting dengan cara memegang yang benar dan gambarnya tidak tergunting dengan sempurna. Ini menarik bagiku, karena tanpa aku perhatikan tiba-tiba saja Kiyu bisa!. Kegiatan ini awalnya adalah mengerjakan worksheet memilih gambar bunglon yang terbesar, sedang, dan terkecil, dengan melingkari atau mewarnai gambar bunglon yang dimaksud. Karena Kiyu belum suka mewarnai Kiyu memilih menggunting-gunting gambar bunglon ini.
Kiyu menggunting bunglon
Sekali lagi, anak yang gak terpaku dengan perintah di worksheet seperti ibunya yang kenyang mengerjakan soal2 ini malah bisa mengarahkan untuk berpikir lebih kreatif. Jadi aku gak maksa Kiyu mewarnai, lalu aku gambar 2 pohon di kardus bekas susu dengan warna yang berbeda. Yang mewarnai aku dibantu sedikit sama Kiyu, trus aku arahin kalo bunglon itu kulitnya akan berubah warna menyesuaikan tempat bertenggernya. Kesempatan meragain bunglon yang berubah warna pake gambar-gambar yang udah digunting dengan gaya tukang sulap, “cring! wahh kulit bunglon berubah coklat kayak warna kulit pohon!”. Kali ini dapet ilmu menggunting, mengkategorikan, dan science kemampuan bunglon berubah warna.

Field Trip Museum Empu Tantular

Museum ini berlokasi di Sidoarjo, ini kunjungan pertama ke museum sebelum Museum AAL & Planetarium. Kalo gak bareng Kiyu dan KlubSinau mungkin aku gak akan mendarat di museum ini, hihi. Aku pikir cuma fosil-fosil sama benda-benda lampau aja, ternyata ada yang lebih menarik di lantai 2, yaitu kumpulan percobaan-percobaan sains yang dikemas dengan menarik seperti permainan, serta lukisan-lukisan.

Field trip di Museum Empu Tantular
Waktu itu yang dateng 3, Kiyu, Pandu, sama Nadia, bersama keluarga masing-masing. Teman-teman lain yang gak ikut lagi gak fit. Di lantai bawah, Kiyu mengeksplorasi meriam, miniatur kapal laut, andong, dan karapan sapi. Sebenarnya di depan pintu masuk ada fosilnya paus, tapi Kiyu kurang tertarik karena dia lagi nervous ketemu orang baru yaitu Pandu bersama mama dan papanya, hihi. Tapi untunglah selanjutnya Kiyu mulai agak cair karena lihat barang-barang baru di museum., apalagi di lantai 2. Mbak Maria (mamanya Pandu) menyarankan mencoba kaca seribu. Yang dimaksudĀ  adalah 2 kaca yang di letakkan berhadapan, dan pengunjung bisa ngaca diantara 2 kaca ini. Karena direfleksi berkali-kali maka gambar kita di kaca jadi banyak, Kiyu bilang, “iyu jadi kereta!”, maksudnya gambarnya seperti anak-anak yang sama dengan dirinya berderet seperti gerbong kereta api, haha.

Percobaan lain yang menarik bagi kiyu, yaitu Read more