Selamat datang di dunia imajinasi!. Bisa berimajinasi bersama anak adalah kemampuan yang paling berharga, karena ini salah satu kunci bisa get connected dengan anak. Awalnya ketika umur 2,5 tahun kiyu mengawali imajinasinya dengan kalimat, “Kak iyu pernah naik pesawat terbang”. Aku awalnya tidak menduga kalo ini bentuk imajinasi, sehingga aku luruskan kalo memang belum naik pesawat jangan bilang pernah, itu namanya berbohong.
Tapi setelah sering cerita, “Kak iyu pernah naik jerapah, dinosaurus, buaya”, langsung deh sadar rupanya Kiyu sedang memasuki dunia imajinasi. Setelah itu aku berusaha nyambung dengan ceritanya. Bulan Desember ini aku agak sibuk dengan urusanku. Memang si aku berusaha berbagi waktu dengan anak-anak, tapi ketika menemani mereka, ragaku bersama mereka, tapi pikiran masih ketinggalan di depan komputer
. Di satu malam sebelum tidur, Kiyu bercerita banyak dan aku cuma jawab, “ya ya….ohh ya???”. Kiyu memang sudah kecanduan suka bercerita dan diceritai. Tapi waktu itu aku lagi gak mood, pikiranku cuma, “ayooo cepat bobok anakku!!”. Hmm ceritanya imaginatif sekali, gak nyambung aku, apalagi Kiyu masih cedal, lalu untung aja segera ada alarm dalam diriku, “Loo aku kok mulai gak nyambung sama anak dan menganggap sepele cerita-ceritanya…padahal ini kan Golden Opportunity!”. Langsung deh aku nanya ke Kiyu, “Kak kiyu cerita lagi jalan-jalan ke kebun binatang ya? Trus lihat ikan kayak paus tapi ukurannya kecil? Namanya apa tadi? Hule-hule?”.

Cari-cari ide untuk mengeksplor ceritanya. Ide yang ada mengajaknya keluar kamar, dan menggambar ikan imajinasinya. Read more
Agaknya aku mulai tertarik dengan model pembelajaran child-led learning/unschooling. Belum banyak baca si tepatnya seperti apa, hanya tahu secara umum. Yang penting learn by doing, daripada bingung dan kebanyakan baca teorinya kan gak pernah akan ada valuenya. Pas bicara sama suami, kami sepakat untuk tidak terlalu banyak mendikte atau menyuapi anak dalam proses pembelajaran, biar dia lebih bebas berpikir dan memilih. Karena sebelumnya baik aku sama suami kadang kurang sabar ngasih tahu ke anak kalo seharusnya x tuh gini loohh. Atau aku tidak sengaja memangkas keingintahuan anak seperti ketika dia mo nyendok pake sendok sayur yang besar buat nyendok teh di gelasnya, aku bilang, “pakai sendok yang kecil aja, ini kebesaran gak bisa masuk ke gelas”. Alasanku, kasian yang nyuci. Kenapa waktu itu gak aku biarin aja dia masukin sendok yang kebesaran itu?? Betul kan?.
Nah ini dia proses transformasi menuju child-led learning
Berbaris-baris
Aku gak pernah dengan sengaja mencontohkan untuk menata barang-barang sampai rapi berbaris-baris. Satu hari dia aku ajak maen ke playground yang ada di mall-mall. Biasanya dia seneng bukan maen, tapi waktu itu gak mood maenan, gak kayak temennya yang sibuk lompat sana lompat sini, naek mobil-mobilan, prosotan, dll. Aku sama tantenya rada bingung, trus mereka-reka apa karna dia akhir2 ini kurang maen keluar rumah ya.. kok jadi canggung gitu. Yang bikin geli, abis temen2nya naek kuda2an/kijang2an, dia yang nata maenannya, dibuat baris berbaris, klklklk kok mau-maunya kamu nak. Abis itu di rumah semua barang-barang dijejer-jejer, mulai dari sandal, mobil2an, sampai bapak sama pakdenya diatur disuruh baris
). Dan gambar di bawah ni dia lagi nata mainan bulan sabitnya.

Aku gak ikut ngatur2… cuman nanya kiyu bikin apa ni? Bilangnya ular, kadang kereta api. Akhirnya aku manfaatin nyontohin ordering dari kecil ke besar, atau mengkategorikan dengan menata warna yang sama… Read more
Recent Comments